ESAI KEBEBASAN POLITIK

Meningkatnya Tingkat Apatisme Rakyat Dalam Partisipasi Politik
Demokrasi menjadi salah satu sistem politik yang paling banyak dianut oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Penyelenggaraan Pemilu yang bebas dan berkala menjadi prasyarat sistem politik demokrasi. Dalam demokrasi, kesadaran demokrasi dikatakan tinggi bilamana partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan Pemilu juga tinggi. Dengan begitu, rakyat menjadi aktor penting dalam Pemilu disamping karena Pemilu merupakan salah satu sarana kedaulatan rakyat dimana rakyat dapat memilih pemimpin mereka secara langsung untuk menjalankan pemerintahan. Di Indonesia, calon pemimpin direkrut oleh partai politik yang kemudian akan dipilih oleh rakyat sesuai hati nurani mereka. Jumlah partai politik di Indonesia yang mencapai angka dua belas pada Pemilu 2014 dan terus bertambah dari tahun ke tahun dengan harapan partai politik tersebut dapat merekrut calon pemimpin yang lebih baik nyatanya belum sesuai harapan rakyat Indonesia. Hal tersebut malah menjadikan kepercayaan rakyat sebagai pemilih menurun. Penurunan kepercayaan rakyat akan partai politik berdampak pada partisipasi rakyat ketika Pemilu. Rakyat menjadi apatis atau acuh tak acuh akan pemilihan umum. Bagaimana tidak, setelah mereka menggunakan hak suaranya dan mengetahui hasil kinerja pemimpin yang mereka pilih tersebut tidak sesuai harapan dan janji-janji mereka yang tidak terlaksana. Dari situ, rakyat berpikiran bahwa tidak ada gunanya menggunakan hak suara untuk memilih pemimpin dan memilih tidak menggunakan hak suara atau memilih namun secara tidak sah dengan mengabaikan tata cara memilih sesuai ketentuan Komisi Pemilhan Umum (KPU).

Menurut Komisi Pemilhan Umum (KPU), Golput (golongan putih) adalah para pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya ditambah dengan suara yang tidak sah. Tidak menggunakan hak suara dalam Pemilu atau Golput merupakan wujud apatisme rakyat sebagai bentuk ketidak percayaan rakyat pada partai politik maupun calon presiden, calon wakil presiden, atau kandidat para calon kepala daerah dan wakilnya. Angka Golput di Indonesia terus meningkat setiap Pemilu. Dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU) disimpulkan bahawa tingkat partisipasi politik pada Pemilu rezim Orde Lama mula dari tahun 1955 dan Orde Baru pada tahun 1971 sampai 1997, kemudian Orde Reformasi tahun 1999 sampai sekarang masih cukup tinggi. Didukung data presentase Golput setiap Pemilu yaitu pada Pemilu tahun 1955 mencapai 91,4 persen dengan angka Golput hanya 8,6 persen. Baru pada era non-demokratis Orde Baru Golput menurun. Pada Pemilu 1971, tingkat partisipasi politik mencapai 96,6 persen dan jumlah Golput menurun drastis hanya mencapai 3,4 persen. Sementara Pemilu tahun 1977 dan Pemilu 1982 hampir serupa. Yakni, partisipasi politik sampai 96,5 persen dan jumlah Golput mencapai 3,5 persen. Pada Pemilu 1987 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 96,4 persen dan jumlah Golput hanya 3,6 persen. Pada Pemilu 1992 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 95,1 persen dan jumlah Golput mencapai 4,9 persen. Untuk Pemilu 1997 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 93,6 persen dan jumlah Golput mulai meningkat hingga 6,4 persen. Pasca-reformasi, pada Pemilu 1999 tingkat partisipasi memilih 92,6 persen dan jumlah Golput 7,3 persen. Angka partisipasi yang memprihatinkan terjadi pada Pemilu 2004, yakni turun hingga 84,1 persen dan jumlah Golput meningkat hingga 15,9 persen. Pada Pilpres putaran pertama tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 78,2 persen dan jumlah Golput 21,8 persen, sedangkan pada Pilpres putaran kedua tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 76,6 persen dan jumlah Golput 23,4 persen. Pada Pemilu Legislatif tahun 2009 tingkat partisipasi politik pemilih semakin menurun yaitu hanya mencapai 70,9 persen dan jumlah Golput semakin meningkat yaitu 29,1 persen. Dari data tersebut, menunjukkan bahwa partisipasi rakyat setiap Pemilu terus menurun.

ATAU DOWNLOAD INI, FORMAT MS WORD
LINK DIBAWAH

Pada dua Pemilu  Presiden terakhir yaitu Pemilu 20019 dan Pemilu 2014 ternyata presentase Golput mengalami penurunan. Menurut data Komili Pemilihan Umum (KPU), Pemilu Presiden 2009 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 71,7 persen dan jumlah Golput mencapai 28,3 persen. Dan pada Pemilu 2014 tingkat partisipasi pemilih 75,2 persen. Sementara yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 24,8 persen. Dari 29,1 persen pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 menjadi 24,8 persen pada Pemilu Presiden 2014 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi rakyat dalam pemilu mengalami peningkatan.

Dari data-data diatas,dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi rakyat terhadap kegiatan politik khususnya Pemilu terus menurun dan baru meningkat di tahun-tahun terakhir ini. Namun, penurunan presentase Golput di dua Pemilu terakhir belum tentu akan terus terjadi di Pemilu-pemilu selanjutnya mengetahui masih tingginya presentase Golput yang hampir seperempat dari pemilik hak suara. Jadi, masih perlunya pengetahuan politik di kalangan masyarakat yang hanya mengetahui kejelekan Partai Politik yang dinilai selalu mementingkan kepentingan partai dan kejelekan Parlemen yang hanya ricuh ketika sidang dan berita korupsinya saja. Perlunya pendidikan politik sejak dini memang sangat penting. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa hendaknya lebih mendalami pengetahuan tentang politik dengan memahami tugas-tugas dan tanggung jawab Partai Politik yang berat untuk memecahkan masalah-masalah masyarakat atau dengan terjun langsung divdunia politik.

Generasi muda tidak diajarkan untuk menjadi apatisme politik akan tetapi diajarakan bagaimana lebih peduli terhadap gerakan politik di Indonesia yang membutuhkan pembenahan cara memecahkan masalah-masalah Negara tanpa ricuh. Pemuda sekarang jangan beranggapan bahwa hanya mahasiswa hukum saja yang akan berbicara mengenai politik akan tetapi semua mahasiswa harus mengetahui sejelas-jelasnya dunia politik. Ini adalah bentuk suatu kepedulian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 DOWNLOAD DOKUMEN MICROSOFT WORD
---------- DISINI ----------
LEBIH LENGKAP, LEBIH MUDAH, DILENGKAPI SUMBER/ DAFTAR PUSTAKA

0 Response to "ESAI KEBEBASAN POLITIK"

Post a Comment